Pilih Laman

buat kalian yang dirumah aja khususnya buat ibuk-ibuk yang biasa berkarya diluar rumah lalu karena epidemi ini diharuskan oleh pemerintah untuk bekerja,
belajar dan beribadah dirumah aja udah mulai stress belum untuk membantu anaknya belajar selama dirumah aja?
kalo aku kayaknya udah begitu, udah hampir 4 pekan belajar dirumah aja dengan mood yang naik turun tapi harus ditahan-tahanin
karena Sae maunya belajar sama ibuknya.

terus apa yang membuatku stress untuk membantu Sae belajar?
oke, banyak penjelasan yang akan aku jabarkan dan ini berdasarkan pengalaman pribadiku ya.. kalopun ada ibuk-ibuk yang baca ini dan merasa gak setuju,
monggo gpp kan lain kepala lain juga isinya.

aku setuju mengapa alasan seorang ibuk itu harus pintar. gak melulu harus sekolah tinggi-tinggi apalagi kalo saat itu ibuk-ibuk gak punya biaya
untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi (kayak aku ini), sekarang kita bisa menambah wawasan baik dari orang terdekat,
teman-teman, buku maupun laman daring yang banyak menjelaskan segala sesuatu hal.

kondisi saat ini jujur seorang ibuk harus pintar-pintar mengatur waktu, pikiran dan tenaga. gimana enggak?
ya iya yang biasanya di sekolahan diajarin oleh gurunya terus sebagai wanita pekerja yang pulangnya malam barulah setelahnya membantu anak belajar,
untungnya Sae baru masuk TK jadi untuk PR nya pun gak terlalu banyak dan gak terlalu sering.
tapi untuk sekarang ini PR yang harus dikerjakan setiap hari, banyak peralatan yang harus disiapkan dan ngumpulin mental si ibuk biar kuat menghadapi mood si anak.
karena kalo dirumah Sae maunya belajar sama ibuknya, sebagai ibuk mau gak mau harus membantu dan mengajarkan anaknya untuk belajar yang terkadang PR nya bikin ibuknya gak paham.
oke, bisa sih tanya sama gurunya tapi yaa PR anak jaman sekarang sama waktu aku TK dulu kan beda banget! jadi aku kayak harus masuk ke dunia pendidikannya Sae saat ini
dan harus bisa menyesuikan dengan apa yang terjadi.

kenapa harus menyesuaikan? ya karena ngajarin anak-anak itu gak gampang. kadang-kadang kita harus bisa masuk ke dunia anak kecil supaya paham
apa yang dia mau atau apa yang dia mengerti. waktu aku sekolah dulu mana ada kita bisa komunikasi via daring seperti sekarang (contoh: zoom),
bisa ngobrol rame-rame di laman daring bersama dengan guru dan teman-temannya dan ini metode pembelajaran yang terkadang dilakukan dirumah begitu.
memang gak tiap hari tapi kan alemonggg ya ibuk-ibuuukk.

nah sekalian mengungkapkan perasaan sedikit sebagai seorang ibuk yang banyak berhubungan dengan metode pembelajaran Sae, melalui tulisan ini aku share pic
dari grup tetangga sebelah. pic ini kayak mewakili perasaan para emak-emak yang juga aku rasakan kesehariannya. hahahahaha!

dibalik sharing dengan gurunya Sae malam ini ada hikmahnya yang sebelum epidemi ini jarang bangeeet komunikasi, tapi sekarang setiap hari pasti komunikasi.
selain ngirim file PR juga sering tukar pikiran soal Sae atau mengenai apa aja dan malam ini fokus sharingnya soal perkembangan Sae baik selama karantina mandiri dirumah
maupun soal perkembangan Sae disekolah. intinya, aku jadi banyak tau soal Sae selama di sekolah yang perilakunya positif maupun negatif.

ada beberapa hal yang menyentil diriku pada saat gurunya Sae menyampaikan sesuatu mengenai dia sering menyendiri atau murung di sekolah.
salah satunya karena ibuknya! Sae itu takut sama ibuknya, huhuhuhuhu.
dia selalu menceritakan kalo berbuat salah ini dan itu nanti ibuk marah dan dia selalu menceritakan mengenai sosok bapaknya dengan lebih gembira.

aku memang mengakui akan hal itu, tapi sebenarnya bukan marah melainkan nadanya aja yang tinggi dan mimik mukaku tuh emang jutek dan galak begini,
banyak diakui oleh orang padahal hatinya lembut banget, xixixixixi.

meskipun aku dan Sae beberapa kali berselisih paham tapi itu normal kok kalo dalam suatu hubungan. jujur aku gak bisa kalo disuruh marah sama Sae.
bonding antara aku dan dia sangat kuat. bagaimana enggak? coba ibuk-ibuk bayangin ketika beberapa taun menjalani pernikahan tapi belum juga
dikaruniai keturunan lalu menjalani program dan berhasil pastinya kan seneng banget perasaannya. karena berdasarkan pengalaman disekitarku ada yang masih
kurang beruntung dengan memiliki keturunan meskipun dengan berbagi metode.

selama 9 bulan berada di dalam perutku, aku ajak ngobrol bahkan nyanyi dan direspon olehnya dengan sebuah tendangan kecil di perut (jadi rindu masa itu)
dan selama 2 tahun 3 bulan aku harus memberikan ASI ekslusif dan menyusui langsung tanpa botol karena ia gak mau kalo pake botol.
dan masih banyak lagi yang membuat kedekatan kita itu.

perasaanku sebagai ibuk waktu memiliki Sae pengennya di eman-eman atau di sayang-sayang kalo orang Jawa bilang. mungkin akunya posesif atau protektif banget sama dia.
terbukti ketika Sae mendapat pemukulan dari seorang temannya di sekolah lalu aku datang menemui kepala sekolahnya.
normal kan kalo seorang ibuk marah karena anaknya diperlakukan kurang menyenangkan dari orang lain yang baru kenal juga.
atau pas waktu acara Natal & Tahun Baru di sekolah Sae, pada saat itu gerakan menari Sae salah lalu dia diam sepanjang sisa akhir menari.
setelahnya oleh gurunya ditanya kenapa dan Sae menjawab bahwa ia salah gerakan dan takut kalo-kalo ibuknya akan marah.
ternyata dengan keposesifanku itu membuat Sae gak nyaman, huhuhuhu.

setidaknya aku mengakui kebenaran bahwa aku orang yang cenderung ingin sempurna dalam segala hal dan ternyata aku terlalu keras sama diriku terlebih sama Sae,
tapi ternyata ia belum mampu untuk mengikuti apa yang aku mau. tapi sebenarnya dibalik itu semua aku sayang banget sama dia dan ingin mempersiapkan bahwa
suatu hari kalau bapak dan ibuknya gak ada ia mampu mengerjakan segala hal dengan baik dan sempurna.
bukan pembelaan tapi aku ingin mendidik dan mempersiapkan Sae untuk dapat menghadapi dunia ini bahwa tak semuanya indah dan sesuai dengan keinginannya.

pembicaran dan sharing panjang dengan gurunya Sae malam ini menjadikan hubungan antara kami berdua seperti bukan sebagai guru dan orangtua murid.
kami saling mengakui bahwa kami berdua mempunyai sahabat dan saudara baru. kelak epidemi ini berakhir kami bertemu dan ngopi-ngopi manjah, hehehehehe.

dengan ini semua menjadikan aku untuk mengingatkan akan pentingnya tumbuh kembang Sae tanpa dipaksakan oleh siapa dan apapun.
mengkoreksi diriku sendiri untuk lebih baik menjadi ibuk dan orangtua sekaligus guru bagi Sae dan yang paling penting bahwa menjadi seorang ibuk gak ada kelasnya
bahkan sampai mendapatkan sertifikat.

buat ibuk-ibuk dimanapun kalian berada meskipun ini bukan hari ibuk tapi aku sampaikan bahwa kalian hebat dan kalian adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi anak-anaknya.

catatan kecil manis buatku:
anak kecil bukan miniatur kita.
tarik, ulur dan lemesin aja untuk menghadapinya..

 

%d blogger menyukai ini: